Manuk Walet, Kemana Kau Pergi?

Manuk Walet, Kemana Kau Pergi? Begitulah judul dari posting ini. Judul tulisan yang mencoba menjustifikasi keadaan bahwa walet di Sedayu akan segera pergi, kalau tidak boleh dibilang benar-benar telah pergi.

Bangunan gedung-gedung yang menjulang tinggi di Kota Sedayu, membuat suasana Kota Sedayu kini serasa seperti peradaban kota tua. Tersebar di setiap tikungan Kota Sedayu. Kauman, Pengulu, Sedagaran, Srowo, Purwodadi, Mriyunan, Sido Mulyo, Bunderan, dan Asempapak.

Bisnis Manuk Walet (ketika itu) memang sangat menjanjikan. Sehingga masyarakat yang ketika itu mempunyai modal lebih akhirnya berbondong-bondong membangun sarang walet, mulai dari membeli lahan baru hingga meninggikan bangunan rumahnya sampai 4 atau lima lantai. Bukan untuk ditinggali sanak atau keluarga, tapi hanya untuk rumah burung.

Selain tani tambak dan dagang masyarakat Kota Sedayu menjadikan sarang walet sebagai lahan untuk mengais rizki. Sebagai sarana investasi alternatif selain mendepositokan uangnya di bank. Begitulah kira-kira.

Seiring dengan semakin pesatnya pembangunan Kota Sedayu, bangunan gedung-gedung tersebut juga terlihat semakin tua. Meskipun harus beradu melawan waktu yang semakin memburu, namun ia tetap setia menemani perjalanan sejarah kota yang katanya semakin modern.

Tetap setia pada sang empu meskipun tidak ada yang bisa ia perbuat. Tamu yang biasa mampir dan tinggal pun tidak seramai masa lalu.

Jika tempo dulu Sedayu terkenal dengan hasil walet kelas ekspor, maka kini agak disanksikan. Jangankan untuk komoditas ekspor, untuk menambah penghasilan saja seakan tidak pernah terpenuhi.

Ya, manuk walet yang biasa disebut sebagai burung walet, kini seakan enggan untuk bersarang, apalagi bereproduksi di gedung-gedung yang memang disiapkan untuknya itu.

Pabrik-pabrik yang dulu hanya berkembang di wilayah Kota Gresik kini bergeser ke arah utara mendekati Kota Sedayu. Lahan perkebunan yang mampu menahan sumber makanan manuk walet juga habis ditebas untuk lahan pemukiman. Sedayu yang dulu hijau kini berubah menjadi kuning dan panas.

Mungkin itulah sebabnya manuk walet yang ketika itu betah tinggal di Kota Sedayu, kini harus dipaksa untuk bermigrasi ke daerah yang lebih menjamin. Ke arah barat Kota Sedayu, Lamongan, Tuban, dan Bojonegoro yang memang relatif hijau.

Suara nyaring di sore hari kini menjadi sepi. Sedayu yang modern telah datang dengan menggusur masyarakatnya. Menjelajah tanpa permisi.

Sarang walet, benarkah tinggal sejarah? Manuk walet, maukah kau kembali saat Sedayu kembali seperti dulu?

9 Comments

  1. wah.. emane rek, pabrik-pabrik tambah akeh ancene cak ngentekno tambak ambek sawah-sawah

  2. salm kenal.
    dari arek ujungpangkah, salut dengan blogernya sedayu

    terus kapan pangkah bikin??? ayo cak, ojo sampek kalah karo komunitas liyane… gresik harus lebih maju…

  3. Untuk mengetahui semua informasi dan rahasia walet terbaru silahkan klik : Walet
    Sarang Walet
    Sarang Burung Walet

  4. laa sakno yo manuke, menungsane + serakah wae, salam cak teko arek pereng.

  5. sakno kabeh.. yo manuk’e yo menungsane
    salam kenal ae..

  6. iyo.bener…………
    saiki sepi bgt….manuk walet wis podho sepi………

    sarang burungq skr cuma ada brung kensali ma sriti………..tokk

    from arek sidayu

  7. salam kenal teko arek menganti.

  8. http://pengusaha-sarang.blogspot.com/ saya pengusaha dalam bidang sarang burung walet gua/moyen dan jg seriti gua dalam partai besar maupun kecil dan apabila anda mempunyai sarang burung walet gua dan seriti gua seperti pinus,campur,rumput laut,ijuk DLL silahkan hubungi no 085233333979 dan 081913444443

  9. walet pergi biar para juragan walet bertobat dan tidak malas kerja…


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s