Banjir di Sedayu, Tradisi Membosankan

Derasnya hujan yang mengguyur wilayah Gresik dan sekitarnya ternyata berdampak besar di Kota Sedayu. Genangan air muncul di sekitar Alun-alun Kota Sedayu, Kabupaten Gresik. Air juga menggenangi ruas jalan penghubung Kabupaten Gresik dengan Kabupaten Lamongan di jalur Ujung Pangkah-Tanjung Kodok (merupakan jalan nasional, yang biasa disebut sebagai jalur deandles pantura).

Menurut petugas informasi Polres Gresik Brigadir Nyoman kepada detiksurabaya.com, Selasa (25/12/2007) mengatakan, ketinggian air hanya 25-30 cm. Menurutnya, air mulai menggenangi jalan tersebut pada Pukul 16.00 WIB. “Posisi kawasan tersebut memang rendah dibandingkan dengan wilayah lainnya. Hujan seperti ini membuat kawasan itu tergenang,” katanya.

Nyoman menambahkan, genangan air ini hanya berlangsung selama 25-30 menit dan saat ini sudah mulai surut. Meski begitu, genangan air ini tidak sampai membuat kemacetan di kawasan itu. “Airnya cepat surut, kemacetan tidak sempat terjadi,” ungkapnya.

Walau sudah surut, Nyoman berpesan, agar para pengguna jalan untuk berhati-hati karena saat ini hujan masih turun di Gresik. “Tetap waspada, jangan lengah,” tandasnya. (DetikSurabaya.com)

Ya, banjir adalah salah satu tradisi yang ada di Kota Sedayu Kabupaten Gresik. Setiap kali hujan mengguyur kota ini, selalu diikuti dengan banjir. Bahkan tambak yang berada di sebelah utara wilayah ini juga terancam terendam. Tentunya, tradisi ini juga berpengaruh secara ekonomi kepada mayarakat Sedayu yang mayoritas petani tambak.

Disinyalir, genangan tersebut disebabkan oleh pendangkalan pada kali Srowo yang berfungsi mengalirkan debit air ke laut. Kali ini telah lama tidak dikeruk lagi, setelah dikeruk pada 7 atau 8 tahun yang lalu. Karena dangkal, sehingga air tidak bisa langsung mengalir ke laut. Akibatnya genangan pun terjadi di sana sini.

Anehnya, kasus seperti ini hanya ditanggapi dingin oleh para petinggi. Padahal, meskipun air menggenang hanya dalam durasi 25-30 menit, namun implikasi yang ditimbulkan sangat fatal. Hasilnya, bisa ditebak… Alun-alun Sedayu yang seharusnya bisa digunakan untuk bermain sepak bola, ketika terjadi hujan, lapangan bisa disulap menjadi sawah garapan. Hehehe… Tradisi yang unik bukan? Dan, gagal panen, itulah teror yang menghantui benak para petani tambak di wilayah Sedayu dan sekitarnya. Lalu, apakah tidak ada solusi?

Begitulah tradisi banjir di Kota Sedayu, yang biasa menggenangi alun-alun, jalan-jalan, pasar, dan tambak. Sementara itu, jika terjadi laut pasang, perkampungan pun terancam kebanjiran. Sungguh tradisi yang membosankan…

2 Comments

  1. soro ancen petinggine

    petinggine pancen ndak responsif… atau mungkin saja petinggine bukan asli wong nggresik…

  2. Gak sepiro Cak soro Nak dunyo, barang Soro Nak Akhirat MODAR ……………..

    PEMERINTAH SAK MASYARAKATE wes PICEK lan TULI kabeh, sehinggo GAK KETOK lan GAK KERUNGGU.


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s